400 Ribu Anak Terlantar Jadi Loper

Kompas.com - 24/07/2008, 20:03 WIB

JAKARTA, KAMIS - Hingga tahun 2008, sekurangnya 400.000 anak terlantar di Indonesia menjadi loper koran di jalan untuk mendapat penghasilan tambahan. Panitia Hari Anak Nasional Departemen Sosial Kiki Riyadi dalam jumpa pers Lopers Day 2008 di Jakarta, Kamis (24/7) menjelaskan, jumlah anak terlantar secara keseluruhan mencapai empat juta orang.

"Total jumlah anak terlantar yang menjadi loper belum terdata pasti. Angka 400.000 ribu itu hitungan minimal. Bisa jadi sekitar satu juta orang dari mereka menyambi men jadi loper untuk mendapat penghasilan. Pemerintah juga mengupayakan pelbagai bantuan dan program bagi mereka termasuk acara Lopers Day yang diadakan hari Minggu mendatang di Ancol untuk para loper koran termasuk anak terlantar yang menjadi loper," kata Kiki.

Disediakan 50.000 undangan gratis bagi para loper untuk menikmati fasilitas di Ancol dan potongan separuh harga di arena hiburan seperti Dunia Fantasi, Gelanggang Samudera dan Atlantis. Departemen Sosial menyediakan dana Rp 150 juta dan menyumbang perco ntohan sepeda loper sebanyak 11 unit.

Wakil Presiden Jusuf Kalla dijadwalkan hadir dalam acara tersebut. Sebanyak 147 Diplomat dari negara sahabat juga diundang untuk berpartisipasi dalam Lopers Day. Ketua Panitia Lopers Day Sugeng Heri Santoso dari Harian Kompas menjelaskan, para loper rata-rata berpenghasilan sekitar Rp 500.000 per bulan. "Mereka bekerja umumnya pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB hingga maksimum pukul 09.00 WIB," kata Sugeng.

Para bocah yang menjadi loper hidup dalam kondisi sangat marjinal dan rentan terhadap represi aparat pemerintahan. Ketua Yayasan Loper Indonesia (YLI) Laris Naibaho menjelaskan, dirinya sudah meminta kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar tidak lagi merazia para loper yang dianggap sebagai masalah sosial seperti gelandangan dan pengemis.

"Mereka adalah ujung tombak penyampaian informasi media cetak kepada masyarakat. Insan media dan pemerintah seharusnya memperhatikan para loper termasuk bocah yang bekerja sebagai loper koran. Banyak dari mereka hingga kini diburu dan dimasukan panti sosial Kedoya," kata Naibaho.

YLI ujar Naibaho berupaya merangkul pengusaha koran, agen dan pihak terkait untuk menyediakan tunjangan dan peningkatan kesejahteraan loper. Dia sudah mengusulkan diadakan jaminan pengobatan, asuransi dan penyediaan 10.000 unit sepeda bagi loper koran.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau